Menggarap Potensi Beras Berkualitas di Pasar Ritel Modern

Menggarap Potensi Beras Berkualitas di Pasar Ritel Modern

Sebelum mengulas mengenai potensi penjualan beras berkualitas (premium) di pasar ritel modern, mari kita simak dulu mengenai situasi konsumsi beras saat ini. Badan Pusat Statitistik (BPS) menyebutkan, hingga triwulan III2016 Indonesia mengimpor 1,1 juta ton beras senilai US$472,5 juta. Sementara pada periode yang sa ma 2015 impor hanya 229,6 ribu ton senilai US$99,8 juta. Pemasoknya adalah Thailand, Vietnam, dan Pakistan. Impor beras tersebut, menurut BPS, untuk memenuhi kebutuhan beras khusus restoran Jepang, India, Timur Tengah, serta komunitas mereka di Indonesia. Juga untuk cadangan dan antisipasi fluktuasi harga. Angka penjualan beras premium di Indonesia, ter utama di pasar ritel modern, mengalami pertumbuhan sangat signifikan dari tahun ke tahun. Nah, ini merupakan peluang bagi petani padi, usaha pascapanen dan pengolahan (produksi, pengemasan), dan perdagangan beras premium. Peluang besar itu juga didukung pertumbuhan kelas masyarakat menengah (pekerja) Indonesia yang pada 2012-2020 diperkirakan sebesar 174%. Pertumbuhan ini akibat membesarnya porsi penduduk usia produktif (<30 tahun) yang mencapai lebih dari 50% dari total penduduk pada 2015. Penduduk yang produktif akan mendorong peningkatan konsumsi termasuk konsumsi beras premium. Menurut AC Nielsen, 48% dari total konsumsi Fast Moving Consumer Goods (FMCG) berasal dari orang-orang kelas menengah. Melihat ulasan berbagai sumber tersebut, kita sepakat potensi pertumbuhan dan penjualan beras premium di pasar ritel modern masih sangat besar. Pertumbuhan penjualan beras premium pun didukung pertumbuhan jumlah gerai pasar modern yang terus tumbuh sekitar 8-10% per tahun.

Beras Premium

Peningkatan populasi kelas menengah sangat mempengaruhi penyediaan beras premium yang se suai kebutuhan mereka. Berbagai merek, varietas, dan ukuran kemasan rumah tangga 1-2 kg (biasanya beras impor/khusus), 5 kg, dan 10 kg tersedia di rak-rak di pasar ritel modern. Beras premium ini mendapatkan persepsi yang baik di mata konsumen, yaitu kualitas prima, higienis, dan sehat. Beberapa ciri beras yang berkualitas, antara lain bu lirnya memanjang bulat dan tidak menggumpal (saling lengket membentuk gumpalan); berwarna putih bersih (meskipun tidak memakai pemutih). Beras tidak beraroma apak (beraroma wangi), bebas dari bahan pengawet, dan nasinya pulen. Beras berkualitas baik dipercaya akan memberikan dampak yang baik bagi kesehatan. Saat ini berbagai jenis (beras putih, merah, hitam) dan varietas beras dijual di pasaran dengan sejumlah kemasan dan merek di pasar ritel modern (minimarket, supermarket, dan hypermarket). Kemasan beras dibuat menarik dan dilengkapi informasi yang memudahkan pembeli atau konsumen. Berikut tiga jenis beras putih lokal yang sangat digemari konsumen pasar ritel modern: a. Pandan Wangi, berciri khas aroma yang wangi pandan. Ciri lainnya, bentuk butirannya tidak panjang, tetapi cenderung bulat, warna sedikit bening kekuningan, tidak putih. b. Setra Ramos (IR 64), termasuk beras yang paling banyak beredar di pasaran karena harganya ter jangkau dan relatif cocok dengan selera masyarakat perkotaan. Beras ini pulen jika dimasak menjadi nasi. Namun kalau berasnya sudah lama (lebih dari 3 bulan), nasinya sedikit pera dan mudah basi. Butirannya agak panjang/lonjong, tidak bulat. c. Rojolele, beras ini berciri fisik cenderung bulat, memiliki sedikit bagian yang berwarna putih susu, dan tidak wangi seperti pandan wangi. Nama Rojolele sebutan dari daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur, tetapi di Jawa Barat dan beberapa daerah lain terkadang disebut beras Muncul.